TERNATE, SherlyMalut.com – Di balik aktivitas perdagangan ikan di Pasar Bastiong, Kota Ternate, terdapat perjuangan para pekerja yang setiap hari mengandalkan tenaga dan ketekunan untuk mencari nafkah. Mereka harus bekerja sejak dini hari, menghadapi lingkungan pasar yang basah dan licin, serta menerima penghasilan yang tidak menentu.
Salah satunya adalah Irawan, seorang pekerja ikan di Pasar Bastiong, Ternate, yang telah menekuni pekerjaan tersebut selama lebih dari dua tahun. Hal itu disampaikannya saat diwawancarai pada Sabtu, 24 Oktober 2026, mengenai pekerjaan dan tantangan yang dihadapinya sehari-hari.
Dalam menjalankan pekerjaannya, Irawan bertugas menjual dan memotong ikan untuk dikirim ke Manado dan Bitung, Sulawesi Utara. Aktivitas tersebut membutuhkan tenaga fisik, ketelitian, dan kesiapan bekerja pada waktu yang tidak selalu sama dengan jam kerja pada umumnya.
Irawan menjelaskan bahwa ikan yang masuk ke Pasar Bastiong berasal dari sejumlah wilayah di Maluku Utara, di antaranya Bacan, Kayoa, dan Sanana.
Pasokan dari berbagai daerah tersebut menjadi bagian dari aktivitas perdagangan ikan di Ternate. Sebagian ikan yang ditangani para pekerja kemudian dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan pasar di luar Maluku Utara, termasuk Manado dan Bitung.
Proses penanganan ikan, mulai dari pemotongan hingga persiapan pengiriman, membutuhkan ketelitian agar produk yang diperdagangkan tetap memiliki kualitas yang baik.
Meski telah bekerja selama lebih dari dua tahun, Irawan mengaku penghasilannya setiap hari tidak menentu. Ia mengatakan bahwa pendapatannya terkadang mencapai Rp300.000 per hari, tetapi pada hari lain hanya sekitar Rp100.000.
Besarnya penghasilan tersebut bergantung pada banyaknya ikan yang masuk ke pasar. Kondisi ini membuat pendapatan yang diperoleh tidak selalu sama setiap harinya.
Ketidakpastian penghasilan menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi dalam menjalankan pekerjaan di sektor perdagangan ikan. Para pekerja perlu tetap menjalankan aktivitasnya meskipun jumlah pasokan dan pendapatan dapat berubah.
Selain penghasilan yang tidak menentu, kondisi lingkungan kerja juga menjadi tantangan bagi Irawan. Ia mengungkapkan bahwa lantai pasar yang selalu basah dan licin serta bau amis merupakan bagian dari kondisi yang harus dihadapinya setiap hari.
Situasi tersebut menuntut pekerja untuk berhati-hati ketika memindahkan, memotong, dan menyiapkan ikan. Lantai yang licin juga meningkatkan risiko terpeleset sehingga keselamatan selama bekerja perlu menjadi perhatian.
Tantangan lainnya adalah waktu kerja yang cukup berat secara fisik. Irawan mengaku harus bangun sangat pagi, bahkan terkadang tengah malam, untuk mengambil ikan.
Rutinitas tersebut membutuhkan stamina dan kedisiplinan agar pekerjaan dapat diselesaikan sesuai kebutuhan perdagangan dan pengiriman.
Di tengah kesibukan pasar, menjaga kesegaran ikan menjadi hal penting. Menurut Irawan, ikan perlu diberi es dalam jumlah yang cukup agar tetap segar selama penyimpanan.
Ia juga menjelaskan bahwa air pada tempat penyimpanan ikan perlu diganti secara rutin, sekitar satu atau dua hari, menyesuaikan kondisi penyimpanan.
Penanganan yang baik diperlukan untuk membantu menjaga mutu ikan sebelum dijual atau dikirim ke daerah tujuan. Hal ini menjadi bagian penting dalam kegiatan perdagangan ikan yang melibatkan pasokan dari berbagai wilayah.
Kisah Irawan mencerminkan perjuangan pekerja pasar yang menjalankan profesinya di tengah berbagai keterbatasan dan tantangan. Pekerjaan yang dilakukan sejak dini hari tersebut bukan hanya membutuhkan tenaga, tetapi juga ketekunan dan tanggung jawab.
Di balik ikan yang dibeli masyarakat maupun dikirim ke luar daerah, terdapat peran pekerja yang membantu proses penjualan, pemotongan, dan persiapan distribusi.
Karena itu, keselamatan kerja, kebersihan lingkungan pasar, serta penanganan ikan yang tepat perlu mendapat perhatian agar aktivitas perdagangan berlangsung dengan lebih aman dan nyaman.
Bagi Irawan, pekerjaan sebagai pekerja ikan merupakan aktivitas yang dijalani setiap hari dengan berbagai tantangannya. Pengalaman selama lebih dari dua tahun menunjukkan bahwa bekerja di pasar ikan membutuhkan kesiapan fisik, kesabaran, dan kemampuan menghadapi penghasilan yang tidak selalu menentu.
Writer: Nurfaijah Robo





Tinggalkan Balasan