HALSEL, SHERLY MALUT — Sanggar Budaya Waidoba sukses menggelar Festival Budaya Kampung Orimakurunga di Desa Orimakurunga, Kecamatan Kayoa Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Maluku Utara, pada 26–27 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat pelestarian budaya lokal sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi masyarakat kepada generasi muda.
Mengusung tema “Merawat Tradisi, Melestarikan Budaya, Menghidupkan Pangan Lokal”, festival tersebut mendapat dukungan Dana Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Maluku Utara.
Festival ini dihadiri Fauziah Rasid, S.S., M.Si., yang mewakili Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Maluku Utara, Muhammad Tang, S.S., M.Hum. Fauziah sekaligus membuka secara resmi kegiatan tersebut.
Ketua Panitia Festival Budaya Kampung Orimakurunga, M. Rizki Hasyim, mengatakan bahwa festival ini bukan sekadar kegiatan pertunjukan seni dan hiburan, melainkan upaya nyata untuk menjaga identitas masyarakat, merawat tradisi leluhur, serta memastikan warisan budaya tetap dikenal oleh generasi penerus.
Menurut Rizki, terdapat tiga unsur budaya yang menjadi perhatian utama dalam festival tersebut, yakni Tarian Togal, Tarian Soya-Soya, dan tradisi pengolahan pangan lokal.
Ketiga unsur tersebut dinilai memiliki nilai historis dan sosial yang penting dalam memperkenalkan kekayaan budaya daerah sekaligus menumbuhkan kebanggaan masyarakat terhadap warisan leluhur.
Togal dan Soya-Soya, Identitas Budaya yang Harus Dilestarikan
Rizki menjelaskan, Tarian Togal merupakan salah satu ekspresi seni tradisional yang memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Maluku Utara, termasuk masyarakat Makian-Kayoa.
Melalui gerakan tari, iringan musik, dan kebersamaan para penarinya, Togal menjadi sarana untuk mengekspresikan kegembiraan, mempererat hubungan sosial, serta menjaga kesinambungan tradisi antargenerasi.
Karena itu, Festival Budaya Orimakurunga diharapkan dapat membuka ruang bagi pelaku seni dan generasi muda untuk mempelajari serta mengembangkan Tarian Togal tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisionalnya.
Sementara itu, Tarian Soya-Soya dikenal memiliki keterkaitan dengan sejarah perjuangan masyarakat Maluku Utara, termasuk kisah kepahlawanan dan perlawanan terhadap Portugis.
Tarian tersebut identik dengan gerakan dinamis serta penggunaan perlengkapan seperti ngana-ngana dan perisai yang merepresentasikan semangat keberanian dan perjuangan.
Meski Tarian Soya-Soya belum sempat ditampilkan dalam festival kali ini, Rizki menegaskan pentingnya memperkenalkan sejarah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya kepada generasi muda.
Ia berharap anak-anak dan kaum muda tidak hanya mengenal gerakan tarian, tetapi juga memahami sejarah, kedisiplinan, keberanian, serta kecintaan terhadap tanah kelahiran.
Pangan Lokal Punya Nilai Budaya dan Ekonomi
Selain kesenian tradisional, festival ini juga menyoroti pentingnya pelestarian pengetahuan lokal dalam pengolahan pangan.
Rizki mengatakan, pangan tradisional tidak hanya berfungsi sebagai sumber makanan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya, keterampilan masyarakat, dan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun.
Melalui demonstrasi pengolahan pangan lokal, generasi muda diharapkan dapat belajar langsung dari masyarakat yang masih mempertahankan keterampilan dan pengetahuan tradisional tersebut.
Menurutnya, pengetahuan tentang pangan lokal perlu terus diwariskan agar tidak tergerus oleh perubahan pola hidup dan perkembangan zaman.
Lebih jauh, pangan lokal juga memiliki potensi ekonomi apabila dikembangkan secara kreatif dan berkelanjutan. Pengolahan bahan pangan menjadi produk bernilai tambah dapat membuka peluang usaha bagi masyarakat, meningkatkan kreativitas, serta mendukung perekonomian keluarga.
Rizki Ajak Generasi Muda Cintai Budaya Sendiri
Rizki yang akrab disapa Iki mengajak generasi muda Desa Orimakurunga agar tidak malu mengenal dan mempelajari kebudayaan sendiri.
Ia mengingatkan bahwa derasnya arus informasi melalui media sosial tidak boleh membuat generasi muda kehilangan kedekatan dengan sejarah, bahasa, tarian, makanan tradisional, dan adat istiadat daerahnya.
“Jangan sampai kita lebih mengenal kebudayaan dari luar, tetapi melupakan tarian, makanan, bahasa, sejarah, dan tradisi yang diwariskan oleh leluhur kita,” ujar Iki.
Ia menilai perkembangan teknologi seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mempromosikan budaya lokal, bukan justru menjauhkan generasi muda dari identitas daerahnya.
Rizki berharap Festival Budaya Kampung Orimakurunga menjadi langkah awal dalam membangun kegiatan kebudayaan yang berkelanjutan. Dengan pengelolaan yang baik, kebudayaan dapat berkontribusi terhadap pendidikan, memperkuat persatuan masyarakat, mendorong pariwisata, dan mengembangkan ekonomi kreatif.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Maluku Utara beserta seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan festival tersebut.
Balai Pelestarian Kebudayaan Dorong Pengembangan Budaya Daerah
Sementara itu, Fauziah Rasid dalam sambutannya menyampaikan pesan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Maluku Utara, Muhammad Tang, agar masyarakat terus menjaga, melestarikan, dan mengembangkan kebudayaan daerah sebagai identitas bangsa serta warisan berharga bagi generasi mendatang.
Fauziah menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga mencerminkan jati diri, sejarah, dan kearifan lokal yang membentuk karakter masyarakat.
Ia juga menyampaikan bahwa Balai Pelestarian Kebudayaan terbuka bagi masyarakat, komunitas, dan pelaku seni yang ingin mengajukan proposal maupun program pengembangan kebudayaan di daerah.
Hal tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang mencakup 10 Objek Pemajuan Kebudayaan, mulai dari tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, hingga olahraga tradisional.
“Balai Pelestarian Kebudayaan terbuka bagi siapa saja yang ingin mengusulkan proposal dan program untuk pengembangan budaya di daerah,” ungkapnya.
Ia berharap masyarakat semakin aktif mengambil bagian dalam upaya pelestarian budaya melalui program yang terencana dan berkelanjutan.
Penyelenggaraan Festival Budaya Kampung Orimakurunga menjadi pengingat bahwa menjaga kebudayaan merupakan tanggung jawab bersama. Melalui keterlibatan masyarakat, dukungan pemerintah, dan partisipasi generasi muda, warisan leluhur diharapkan tetap hidup dan menjadi kebanggaan masyarakat Halmahera Selatan serta Maluku Utara. (Red)





Tinggalkan Balasan