Halsel,SherlyMalut.com– Air mata dan keringat puluhan ibu rumah tangga di Desa Manatahan menjadi gambaran perjuangan masyarakat kecil dalam mempertahankan pendidikan anak-anak mereka. Di tengah keterbatasan ekonomi, para ibu ini harus bekerja di lokasi pertambangan emas, memilah pasir dan bebatuan demi mendapatkan sedikit emas untuk membiayai kebutuhan sekolah buah hati mereka.
Mereka bukan mengejar kemewahan. Mereka hanya ingin anak-anaknya tetap bersekolah, tidak kekurangan biaya pendidikan, memiliki seragam, buku, serta kebutuhan sehari-hari agar bisa belajar dengan layak.
Namun, perjuangan itu kini dibayangi ketidakpastian. Aktivitas pertambangan yang menjadi sumber penghidupan mereka belum memiliki kejelasan perizinan. Akibatnya, para ibu mengaku dihantui rasa takut ketika bekerja, sementara kebutuhan pendidikan anak-anak tidak pernah berhenti menunggu.
“Tolong jangan biarkan anak-anak kami menjadi korban keadaan. Mereka rajin sekolah, mereka punya cita-cita, dan kami sebagai orang tua ingin melihat mereka berhasil. Kalau kami tidak bekerja, dari mana biaya sekolah mereka? Kami hanya ingin mencari nafkah dengan tenang dan secara sah,” ungkap salah seorang ibu warga Manatahan dengan nada penuh kesedihan.
Bagi para ibu tersebut, setiap butir emas yang berhasil ditemukan bukan untuk membeli perhiasan atau hidup mewah. Uang itu menjadi harapan untuk membayar kebutuhan sekolah, membeli makanan, dan memastikan anak-anak mereka tetap bisa belajar seperti anak-anak lainnya.
Mereka mempertanyakan, apakah perjuangan orang tua miskin untuk menyekolahkan anak harus terus dibayangi ketakutan dan ketidakpastian?
Karena itu, mereka secara terbuka menyampaikan keluhan kepada Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, agar tidak menutup mata terhadap kondisi masyarakat kecil di Desa Manatahan.
Ibu Gubernur Sherly, dengarkan suara kami! Jangan hanya melihat lubang tambang, tetapi lihatlah anak-anak kami yang setiap pagi berangkat sekolah dengan membawa harapan.
Kami tidak meminta jabatan, tidak meminta kekayaan, dan tidak meminta belas kasihan. Kami hanya meminta pemerintah hadir memberikan jalan keluar, mendampingi proses perizinan sesuai aturan, serta memberikan kepastian agar kami dapat bekerja secara legal, aman, dan bermartabat.
Jika memang terdapat persyaratan yang belum terpenuhi, pemerintah harus menjelaskan dan membantu masyarakat mencari solusi. Jangan hanya datang membawa larangan dan penertiban, sementara nasib keluarga dan biaya pendidikan anak-anak tidak pernah mendapatkan jawaban.
Kini, harapan para ibu Manatahan tertuju kepada Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Mereka ingin ada tindakan nyata, bukan sekadar mendengar janji.
Jangan sampai anak-anak yang rajin belajar dan memiliki cita-cita tinggi harus kehilangan kesempatan meraih masa depan hanya karena orang tuanya tidak memiliki cukup biaya untuk menyekolahkan mereka.
Sebab, bagi ibu-ibu Manatahan, perjuangan mencari emas sesungguhnya bukan tentang menjadi kaya, melainkan tentang memastikan anak-anak mereka kelak tidak perlu lagi bekerja di lubang tambang demi menyambung hidup.
“Kami rela tubuh kami kotor, tangan kami terluka, dan kulit kami terbakar matahari. Asalkan anak-anak kami tetap sekolah dan punya masa depan. Ibu Gubernur, tolong dengarkan jeritan kami!”





Tinggalkan Balasan